Kota Sabang

Benteng Anoi Itam Sabang

Benteng Anoi Itam merupakan sebuah komplek tempat pertahanan Jepang yang terletak di daerah Ujong Kareung, Kecamatan Sukajaya, Kota Sabang. Lokasinya berjarak sekitar 12 KM dari pusat kota Sabang ke arah timur. Karena dekat dengan pantai Anoi Itam maka benteng ini dinamakan sesuai dengan lokasinya yaitu Benteng Anoi Itam. Karena menyajikan wisata sejarah dan alam yang sangat indah maka saat ini Benteng Anoi Itam menjadi salah satu tempat tujuan wisata sejarah yang ada di Kota Sabang.

Sejarah

Pada awalnya benteng ini adalah pusat persenjataan pasukan Jepang yang dibangun pada tahun 1942-1945. Ketika pasukan Jepang mendarat di Sabang pada 12 Maret 1942, mereka langsung menggali terowongan bawah tanah di sepanjang bibir pantai sebagai benteng pertahanan mereka. Tapi saat ini terowongan tersebut telah ditutup oleh pemerintah setempat dengan alasan keamanan.

Bangunan benteng dibangun berbentuk tapal kuda berukuran 1,5 meter bujur sangkar dengan menghadap ke laut. Bangunan ini setengahnya terletak di bawah tanah dan dilengkapi dengan meriam sepanjang tiga meter. Meriam ini diletakkan di sini karena benteng ini juga berfungsi sebagai menara bidik ke arah laut untuk mencegah kapal musuh memasuki wilayah perairan Sabang.

Wisata Benteng Anoi Itam

Selain menikmati wisata sejarah, pengunjung juga dapat menikmati keindahan alam berupa bukit dan pantai. Jika berdiri di atas benteng maka pengunjung dapat melihat ke arah laut lepas dengan perahu nelayan sebagai penghias. Untuk para pemburu foto panorama alam, matahari terbit dan terbenam maka tempat ini menjadi salah satu tempat yang wajib dikunjungi ketika sedang berada di Sabang. Di sisi belakang benteng juga terdapat tempat bersantai untuk pengunjung yang ingin menikmati rujak sambil melihat pemandangan laut lepas

Sebagai tempat wisata sejarah, Badan Pelestarian Cagar Budaya Aceh telah melakukan pemugaran situs Benteng Anoi Itam pada tahun 2017. Dari hasil studi kerusakan telah ditemukan bahwa ada empat unit benteng yang perlu direhab, tetapi karena keterbatasan dana maka diprioritaskan untuk melakukan pemugaran pada situs benteng utama. Pemugaran ini dilakukan untuk menjaga keamanan pengunjung karena mereka sering naik ke atap benteng sehingga dikhawatirkan akan jatuh kalau tidak dilakukan pemugaran.

Memasuki lokasi Benteng Jepang Anoi Itam, kita akan disuguhi pemandangan bukit dengan anak tangga dan pepohonan yang rindang. Pantai yang indah dan benteng kecil yang berada di bawah kaki bukit membuat elok lokasi wisata bersejarah ini. Di kiri jalan setapak yang dilalui akan ditemukan bungker-bungker kecil.

Benteng peninggalan Jepang ini dibangun antara tahun 1942-1945 dan digunakan sebagai tempat berlindung pasukan Jepang. Tentara Jepang mendarat di Pulau Weh (Sabang) pada 12 Maret 1942. Para serdadu Negeri Sakura ini lalu menggali terowongan bawah tanah di sepanjang pantai sebagai benteng pertahanan. Namun setelah tiga tahun lebih terlibat Perang Dunia II, mereka takluk dari Pasukan Sekutu dan meninggalkan semua wilayah jajahannya.

 

“Di Sabang ini banyak sekali gua Jepang. Konon benteng-benteng yang tersebar di Sabang ini terhubung melalui terowongan yang banyak ditemui di kota Sabang. Tapi terowongan ini sudah ditutup,” ujar Syarief, salah satu warga Anoi Itam kepada merdeka.com.

Di Benteng ini terdapat sebuah bangunan dengan menara bidik. Bangunan ini dibuat setengah ke dalam tanah dan hanya menyisakan menara bidik untuk mengintai musuh dari atas bukit. Di benteng ini juga masih terdapat meriam dengan panjang lebih dari 3 meter.

“Dulunya meriam ini mengarah ke laut. Benteng ini salah satu benteng pertahanan Jepang di Nusantara,” terang Syarief yang menjelaskan sejarah singkat benteng ini kepada pengunjung yang datang.

Pohon ‘tongkat komando’

Nah di ujung bangunan benteng terdapat pohon yang sangat langka. Pohon Stigi. Kayu Stigi adalah kayu yang banyak masyarakat kenal sebagai kayu dengan kekuatan magis. Bahkan tidak sedikit masyarakat yang menjulukinya sebagai Raja Kayu bertuah.

 

“Pohon dilarang ditebang. batang dari kayu ini biasanya dibuat sebagai tongkat komando. Tambah berwibawa katanya kalau pakai tongkat dari kayu ini,” ujar Syarief lagi.

Kayu stigi ini mempunyai ciri-ciri keras, kuat dan juga dinamis. Kayu stigi dapat dibagi menjadi dua jenis, yaitu stigi laut dan stigi darat. “Nah yang ini Stigi Darat,” imbuhnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *